Satu langkah paling penting yang dapat anda lakukan untuk menjadi terampil dalam berhunungan dengan orang adalah anda harus menguasai seni bersedia menyetujui.
Sungguh, ini adalah salah satu mutiara kebijaksanaan zaman kita. Barangkali tiada hal lain yang akan sangat membantu anda dalam hidup anda seperti halnya teknik bersedia menyetujui yang mudah dilakukan ini.
Selama anda hidup, jangan pernah lupa bahwa orang bodoh bisa tidak setuju dengan orang lain dan bahwa dibutuhkan orang yang bijak, orang yang pandai, orang yang berjiwa besar untuk menyetujui orang lain---terutama bila orang lain itu jelas salah.
Seni Bersedia Menyetujui mempunyai enam bagian :
1 . Belajar untuk mau menyetujui, setuju dengan orang lain.
2 . Katakan pada orang bila anda setuju dengan mereka.
3 . Jangan katakan pada orang bila anda tidak setuju dengan mereka, kecuali mutlak perlu.
4 . Akuilah bila anda salah.
5 . Tahanla diri anda untuk tidak berdebat.
6 . Tanganilah orang yang berkelahi dengan tepat.
Alas an di balik Seni Bersedia Menyetujui :
A. Orang menyukai mereka yang setuju dengan mereka.
B. Orang tidak menyukai mereka yang tidak setuju dengan mereka.
C. Orang tidak suka bila tidak didetujui.
Pengarang : Les Giblin
Buku : SKILL WITH PEOPLE BAB 4
Sunday, March 28, 2010
Cara Terampil untuk Membuat Orang Merasa Penting
Sifat manusia yang paling umum---sifat yang saya, anda, dan setiap orang lainmemiliki---sifat yang egitu kuat sehingga membuat orang melakukan apa yang mereka lakukan, baik dan buruk---adalah hasrat untuk menjadi penting, hasrat untuk diakui.
Jadi---bila anda ingin terampil dalam menjalin hubungan dengan manusia, pastikan untuk membuat orang lain merasa penting. Ingatlah, semakin anda membuat orang itu merasa penting, semakin besar tanggapan mereka pada anda.
Setiap orang ingin diperlakukan sebagai seseorang (diorangkan)---ini adalah dasar kebiasaan orang timur untuk “menyelamatkan muka”.
Tidak seorang pun ingin diperlakukan sebagai bukan siapa-siapa dan ketika mereka di abaikan atau di pandang rendah, mereka di perlakukan sebagai bukan siapa-siapa, sebagai orang yang tidak ada artinya.
Ingatlah---bagi orang lain, dia sama pentingnya bagi dirinya seprti anda penting bagi anda. Memanfaatkan sifat ini adalah salah satu batu penjuru untuk menjalin relasi manusiawi yang berhasil.
Beberapa tips tentang cara mengakui orang dan membuat mereka merasa penting :
1 . Dengarkanlah mereka (lihat bab V “Cara Terampil untuk Mendengarkan Orang”)
2 . Pujilah dan hargailah mereka
3 . Gunakan nama dan foto mereka seiring mungkin.
4 . Berhentilah sejenak sebelum anda menjawab mereka.
5 . Gunakan kata-kata mereka---“anda” dan “milik anda”.
6 . Sambutlah orang yang menunggu untuk bertemu anda.
7 . Perhatikanlah setiap orang di dalam sebuah kelompok.
Pengarang : Les Giblin
Buku : SKILL WITH PEOPLE BAB 3
Jadi---bila anda ingin terampil dalam menjalin hubungan dengan manusia, pastikan untuk membuat orang lain merasa penting. Ingatlah, semakin anda membuat orang itu merasa penting, semakin besar tanggapan mereka pada anda.
Setiap orang ingin diperlakukan sebagai seseorang (diorangkan)---ini adalah dasar kebiasaan orang timur untuk “menyelamatkan muka”.
Tidak seorang pun ingin diperlakukan sebagai bukan siapa-siapa dan ketika mereka di abaikan atau di pandang rendah, mereka di perlakukan sebagai bukan siapa-siapa, sebagai orang yang tidak ada artinya.
Ingatlah---bagi orang lain, dia sama pentingnya bagi dirinya seprti anda penting bagi anda. Memanfaatkan sifat ini adalah salah satu batu penjuru untuk menjalin relasi manusiawi yang berhasil.
Beberapa tips tentang cara mengakui orang dan membuat mereka merasa penting :
1 . Dengarkanlah mereka (lihat bab V “Cara Terampil untuk Mendengarkan Orang”)
2 . Pujilah dan hargailah mereka
3 . Gunakan nama dan foto mereka seiring mungkin.
4 . Berhentilah sejenak sebelum anda menjawab mereka.
5 . Gunakan kata-kata mereka---“anda” dan “milik anda”.
6 . Sambutlah orang yang menunggu untuk bertemu anda.
7 . Perhatikanlah setiap orang di dalam sebuah kelompok.
Pengarang : Les Giblin
Buku : SKILL WITH PEOPLE BAB 3
Sunday, March 21, 2010
Cara Terampil untuk berbicara dengan orang
Ketika anda berbicara dengan orang, ambilah topik yang paling menarik bagi mereka untuk di bicarakan.
Ada topik yang paling menarik bagi mereka di dunia ini?
DIRI MEREKA!
Ketika anda berbicara pada mereka tentang diri mereka, mereka akan sangat tertarik dan amat terpesona. Mereka akan berpikir baik tentang anda karena melakukan hal ini.
Ketika anda berbicara dengan orang tentang diri mereka, anda mengusap mereka dengan cara yang benar, anda bekerja dengan kodrat manusia. Ketika andda berbicara dengan orang tentang diri anda sendiri, anda mengusap mereka tentang cara yang salah dan bekerja melawan kodrat anda.
Anda beruntung jika anda melakukan hal ini, ini akan menyenangkan keluarga anda, anda mendapatkan dua keuntungan itu, dsb.
Singkatnya---jika anda mengorbankan kepuasan yang anda peroleh dari berbicara tentang diri anda sendiri, dan yang anda peroleh dari pemakaian kata “saya, aku, milikku”, kecakapan kepribadian anda dan pengaruh serta kekuatan anda akan meningkat secara luar biasa.
Tak dapat disangkal hal ini sulit dilakukan dan membutuhkan banyak latihan, tetapi imbalannya sangat sebanding.
Cara lain yang baik untuk memanfaatkan ketertarikan orang pada diri mereka sendiri dalam sebuah percakapan adalah memancing mereka untuk berbicara tentang diri mereka. Anda akan mendapati bahwa orang lebih cenderung membicarakan diri mereka daripada topik lain apa pun juga.
Jika anda bisa mengarahkan orang untuk membicarakan diri mereka, mereka akan sangat menyukai anda. Ini dilakukan dengan mengajukkan pertanyaan mengenai diri mereka sendiri.
Jadi---ketika berbicara pada orang lain, bicaralah tentang mereka untuk bicara tentang diri mereka. Dengan cara itulah anda bisa menjadi seorang pembicara yang paling menarik.
Pengarang : Les Giblin
Buku : SKILL WITH PEOPLE Bab 2
Ada topik yang paling menarik bagi mereka di dunia ini?
DIRI MEREKA!
Ketika anda berbicara pada mereka tentang diri mereka, mereka akan sangat tertarik dan amat terpesona. Mereka akan berpikir baik tentang anda karena melakukan hal ini.
Ketika anda berbicara dengan orang tentang diri mereka, anda mengusap mereka dengan cara yang benar, anda bekerja dengan kodrat manusia. Ketika andda berbicara dengan orang tentang diri anda sendiri, anda mengusap mereka tentang cara yang salah dan bekerja melawan kodrat anda.
Anda beruntung jika anda melakukan hal ini, ini akan menyenangkan keluarga anda, anda mendapatkan dua keuntungan itu, dsb.
Singkatnya---jika anda mengorbankan kepuasan yang anda peroleh dari berbicara tentang diri anda sendiri, dan yang anda peroleh dari pemakaian kata “saya, aku, milikku”, kecakapan kepribadian anda dan pengaruh serta kekuatan anda akan meningkat secara luar biasa.
Tak dapat disangkal hal ini sulit dilakukan dan membutuhkan banyak latihan, tetapi imbalannya sangat sebanding.
Cara lain yang baik untuk memanfaatkan ketertarikan orang pada diri mereka sendiri dalam sebuah percakapan adalah memancing mereka untuk berbicara tentang diri mereka. Anda akan mendapati bahwa orang lebih cenderung membicarakan diri mereka daripada topik lain apa pun juga.
Jika anda bisa mengarahkan orang untuk membicarakan diri mereka, mereka akan sangat menyukai anda. Ini dilakukan dengan mengajukkan pertanyaan mengenai diri mereka sendiri.
Jadi---ketika berbicara pada orang lain, bicaralah tentang mereka untuk bicara tentang diri mereka. Dengan cara itulah anda bisa menjadi seorang pembicara yang paling menarik.
Pengarang : Les Giblin
Buku : SKILL WITH PEOPLE Bab 2
Memahami Orang dan Kodrat Manusia
Langkah pertama untuk meningkatkan keterampilan anda dalam berhubungan dengan orang (relasi manusia yang berhasil) adalah memahami orang dan kodrat manusia dengan tepat.
Bila anda mempunyai pehamahan yang tepat mengenai orang dan kodrat manusia---bila anda tahu mengapa orang melakukan hal-hal yang mereka lakukan---bila anda tahu mengapa dan bagaimana orang akan bereaksi di bawah kondisi tertentu---maka anda dapat menjadi manejer orang yang terampil.
Memahami orang dan kodrat manusia hanyalah soal mengenali dan mengakui orang sebagaimana mereka adanya---bukan apa yang anda kira/pikirkan tentang mereka, dan bukan anda menginginkan mereka menjadi apa.
ORANG TERUTAMA TERTARIK PADA DIRI MEREKA SENDIRI, BUKAN PADA ANDA!
Dengan kata lain---orang lain itu sepuluh ribu kali lebih tertarik pada dirinya sendiri daripada tertarik pada anda.
Dan sebaliknya! Anda lebih tertarik pada orang lain manapun di dunia ini. Ingatlah bahwa tindakan manusia di atur oleh pikirannya sendiri, kepentingan dirinya---sifat ini sangat kuat dalam diri manusia sehingga pikiran yang menonjol dalam kasih saying adalah kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh si pemberi dengan memberi, bukan dengan menerima.
Anda tidak perlu meminta maaf atau menjadi malu karena mengetahui bahwa kodrat manusia adalah mementingkan dirinya sendiri---sejak awal memang emikian dan akan tetap demikian sampai akhir zaman karena manusia ditempatkan di bumi dengan kodrrat itu. Kita semua serupa dalam hal ini.
Pengetahuan ini, bahwa orang terutama tertarik pada diri mereka sendiri, memberi dasar yang kokoh bagi anda untuk berhubungan dengan orang lain.
Pengetahuan ini juga memberi anda kekuatan dan keterampilan dalam hubungan anda dengan orang lain. Dalam bab-bab berikut ini, anda akan melihat berapa banyak teknik yang berhasil berasal dari pemahaman ini.
Jadi sesungguhnya ini adalah kunci kehidupan bagi anda untuk menyadari bahwa orang terutama tertarik pada diri mereka sendiri dan bukan pada anda.
Pengarang : Les Giblin
Buku : SKILL WITH PEOPLE Bab 1
Bila anda mempunyai pehamahan yang tepat mengenai orang dan kodrat manusia---bila anda tahu mengapa orang melakukan hal-hal yang mereka lakukan---bila anda tahu mengapa dan bagaimana orang akan bereaksi di bawah kondisi tertentu---maka anda dapat menjadi manejer orang yang terampil.
Memahami orang dan kodrat manusia hanyalah soal mengenali dan mengakui orang sebagaimana mereka adanya---bukan apa yang anda kira/pikirkan tentang mereka, dan bukan anda menginginkan mereka menjadi apa.
ORANG TERUTAMA TERTARIK PADA DIRI MEREKA SENDIRI, BUKAN PADA ANDA!
Dengan kata lain---orang lain itu sepuluh ribu kali lebih tertarik pada dirinya sendiri daripada tertarik pada anda.
Dan sebaliknya! Anda lebih tertarik pada orang lain manapun di dunia ini. Ingatlah bahwa tindakan manusia di atur oleh pikirannya sendiri, kepentingan dirinya---sifat ini sangat kuat dalam diri manusia sehingga pikiran yang menonjol dalam kasih saying adalah kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh si pemberi dengan memberi, bukan dengan menerima.
Anda tidak perlu meminta maaf atau menjadi malu karena mengetahui bahwa kodrat manusia adalah mementingkan dirinya sendiri---sejak awal memang emikian dan akan tetap demikian sampai akhir zaman karena manusia ditempatkan di bumi dengan kodrrat itu. Kita semua serupa dalam hal ini.
Pengetahuan ini, bahwa orang terutama tertarik pada diri mereka sendiri, memberi dasar yang kokoh bagi anda untuk berhubungan dengan orang lain.
Pengetahuan ini juga memberi anda kekuatan dan keterampilan dalam hubungan anda dengan orang lain. Dalam bab-bab berikut ini, anda akan melihat berapa banyak teknik yang berhasil berasal dari pemahaman ini.
Jadi sesungguhnya ini adalah kunci kehidupan bagi anda untuk menyadari bahwa orang terutama tertarik pada diri mereka sendiri dan bukan pada anda.
Pengarang : Les Giblin
Buku : SKILL WITH PEOPLE Bab 1
Tuesday, March 16, 2010
john lennon biography
If John Lennon had only been one of the four members of the Beatles, his artistic immortality would already have been assured. The so-called "smart Beatle," he brought a penetrating intelligence and a stinging wit both to the band's music and its self-presentation. But in such songs as "Strawberry Fields Forever," "Norwegian Wood (This Bird Has Flown)," "Rain" and "In My Life," he also marshaled gorgeous melodies to evoke a sophisticated, dreamlike world-weariness well beyond his years. Such work suggested not merely a profound musical and literary sensibility - a genius, in short -- but a vision of life that was simultaneously reflective, utopian and poignantly realistic.
While in the Beatles, Lennon displayed an outspokenness that immersed the band in controversy and helped redefine the rules of acceptable behavior for rock stars. He famously remarked in 1965 that the Beatles were "more popular than Jesus" - a statement that was more an observation than a boast, but that resulted in the band's records being burned and removed from radio station playlists in the U.S. He criticized America's involvement in Vietnam, and, as the Sixties progressed, he became an increasingly important symbol of the burgeoning counterculture.
But it was only after the breakup of the Beatles in 1970 that the figure the world now recognizes as "John Lennon" truly came into being. Whether he was engaging in social activism; giving long, passionate interviews that, once again, broadened the nature of public discourse for artists; defining a new life as a self-described "househusband;" or writing and recording songs, Lennon came to view his life as a work of art in which every act shimmered with potential meaning for the world at large. It was a Messianic attitude, to be sure, but one that was tempered by an innate inclusiveness and generosity. If he saw himself as larger than life, he also yearned for a world in which his ego managed at once to absorb everyone else and dissolve all differences among people, leaving a Zen-like tranquility and calm. "You may say I'm a dreamer, but I'm not the only one," he sang in "Imagine," which has become his best-known song and an international anthem of peace. "I hope someday you'll join us, and the world will live as one."
Such imagery, coupled with the tragedy of his murder in 1980, has often led to Lennon's being sentimentalized as a gentle prince of peace gazing off into the distance at an Eden only he could see. In fact, he was a far more complex and difficult person, which, in part, accounts for the world's endless fascination with him. Plastic Ono Band (1970), the first solo album he made after leaving the Beatles, alternates songs that are so emotionally raw that to this day they are difficult to listen to with songs of extraordinary beauty and simplicity. Gripped by his immersion in primal-scream therapy, which encouraged its practitioners to re-experience their most profound psychic injuries, Lennon sought in such songs as "Mother" and "God" to confront and strip away the traumas that had afflicted his life since childhood.
And those traumas were considerable. Lennon's mother, Julia, drifted in and out of his life during his childhood in Liverpool - he was raised by Julia's sister Mimi and Mimi's husband, George - and then died in a car accident when Lennon was seventeen. His father was similarly absent, essentially walking out on the family when John was an infant. He disappeared for good when Lennon was five, only to return after his son had become famous as a member of the Beatles. Consequently, Lennon struggled with fears of abandonment his entire life. When he repeatedly cries, "Mama, don't go/Daddy come home," in "Mother," it's less a performance than a scarifying brand of therapeutic performance art. And in that regard, as well as many others, it revealed the influence of Yoko Ono, whom Lennon had married in 1969, leaving his first wife, Cynthia, and their son Julian in order to do so.
The minimalist sound of Plastic Ono Band was significant too. Lennon had come to associate the elaborate musical arrangements of much of the Beatles' later work with Paul McCartney and George Martin, and he consciously set out to purge those elements from his own work. Co-producing with Ono and the legendary Phil Spector, he built a sonic environment that could not have been more basic - guitar, bass, drums, the occasional piano -- whatever was essential and absolutely nothing more. Lyrically, he turned away from the psychedelic flights and Joycean wordplay of such songs as "I Am the Walrus" and "Lucy in the Sky With Diamonds" - as well as his books, In His Own Write and A Spaniard in the Works -- and toward a style in which unadorned, elemental speech gathered poetic force through its very directness.
On his next album, Imagine (1971), Lennon felt confident enough to reintroduce some melodic elements reminiscent of the Beatles into his songs. Working again with Ono and Spector, he retains the eloquent plainspokenness of Plastic Ono Band, but allows textural elements such as strings, to create more of a sense of beauty. The album's title track alone ensured its historical importance; it is a call to idealism that has provided solace and inspiration at every moment of social and humanitarian crisis since it was written.
From there Lennon turned to a style that was a sort of journalistic agit-prop. Sometime In New York City (1972) is as outward-looking and blunt as Imagine was, for the most part, soft-focused and otherworldly. As its title suggests, the album reflects Lennon's immersion in the drama and noise of the city to which he had moved with Yoko Ono. And as its cover art suggests, the album is something like a newspaper - a report from the radical frontlines on the political upheavals of the day. His activism would create enormous problems for Lennon, however. The Nixon administration, paranoid about the possibility that a former Beatle might become a potent leader and recruiting tool of the anti-war movement, attempted to have Lennon deported. Years of legal battles ensued before Lennon finally was awarded his green card in 1976.
Lennon's political struggles unfortunately found their match in his personal life. He and Ono split up in the fall of 1973, shortly before the release of his album, Mind Games. He moved to Los Angeles and later described the eighteen months he spent separated from Ono as his "lost weekend," a period of wild indulgence and artistic drift. Like Mind Games, the albums he made during this period, Walls and Bridges (1974) and Rock N Roll (1975), are the expressions of a major artist seeking, with mixed results, to recover his voice. None of them lack charm, and their high points include the lovely title track of Mind Games; Walls and Bridges' "Whatever Gets You Through the Night," a rollicking duet with Elton John that gave Lennon his first number-one single as a solo artist; and the sweet nostalgia of Rock N Roll, a covers album that was Lennon's tribute to the musical pioneers of his youth. But none of those albums rank among his greatest work.
In 1975, Lennon reunited with Ono, and their son Sean was born later that year. For the next five years, Lennon withdrew from public life, and his family became his focus. Then, in 1980, he and Ono returned to the studio to work on Double Fantasy, a hymn to their life together with Sean. The couple was plotting a full-fledged comeback - doing major interviews to support the album's release, recording new songs for a follow-up, planning a tour. Then, shockingly, Lennon was shot to death outside the apartment building where he and Ono lived on the night of December 8, 1980.
Lennon's death broke hearts around the world. In the U.S., it recalled nothing so much as the assassination of John Kennedy in 1963, an event for which, ironically, the arrival of the Beatles a few months later had provided a welcome tonic. In the twenty-five years since, Lennon's influence and symbolic importance have only grown. His music, of course, will live forever. But he has survived primarily as a restless voice of change and independent thought. He is an enemy of the status quo, a bundle of contradictions who insisted on a world in which all the various elements of his personality could find free, untrammeled expression. Innumerable times since his death Lennon has been sorely missed. And just as many times and more he has been present - evoked by all of us who find ourselves and each other in the music he made and the vision that he articulated and tried to make real.
While in the Beatles, Lennon displayed an outspokenness that immersed the band in controversy and helped redefine the rules of acceptable behavior for rock stars. He famously remarked in 1965 that the Beatles were "more popular than Jesus" - a statement that was more an observation than a boast, but that resulted in the band's records being burned and removed from radio station playlists in the U.S. He criticized America's involvement in Vietnam, and, as the Sixties progressed, he became an increasingly important symbol of the burgeoning counterculture.
But it was only after the breakup of the Beatles in 1970 that the figure the world now recognizes as "John Lennon" truly came into being. Whether he was engaging in social activism; giving long, passionate interviews that, once again, broadened the nature of public discourse for artists; defining a new life as a self-described "househusband;" or writing and recording songs, Lennon came to view his life as a work of art in which every act shimmered with potential meaning for the world at large. It was a Messianic attitude, to be sure, but one that was tempered by an innate inclusiveness and generosity. If he saw himself as larger than life, he also yearned for a world in which his ego managed at once to absorb everyone else and dissolve all differences among people, leaving a Zen-like tranquility and calm. "You may say I'm a dreamer, but I'm not the only one," he sang in "Imagine," which has become his best-known song and an international anthem of peace. "I hope someday you'll join us, and the world will live as one."
Such imagery, coupled with the tragedy of his murder in 1980, has often led to Lennon's being sentimentalized as a gentle prince of peace gazing off into the distance at an Eden only he could see. In fact, he was a far more complex and difficult person, which, in part, accounts for the world's endless fascination with him. Plastic Ono Band (1970), the first solo album he made after leaving the Beatles, alternates songs that are so emotionally raw that to this day they are difficult to listen to with songs of extraordinary beauty and simplicity. Gripped by his immersion in primal-scream therapy, which encouraged its practitioners to re-experience their most profound psychic injuries, Lennon sought in such songs as "Mother" and "God" to confront and strip away the traumas that had afflicted his life since childhood.
And those traumas were considerable. Lennon's mother, Julia, drifted in and out of his life during his childhood in Liverpool - he was raised by Julia's sister Mimi and Mimi's husband, George - and then died in a car accident when Lennon was seventeen. His father was similarly absent, essentially walking out on the family when John was an infant. He disappeared for good when Lennon was five, only to return after his son had become famous as a member of the Beatles. Consequently, Lennon struggled with fears of abandonment his entire life. When he repeatedly cries, "Mama, don't go/Daddy come home," in "Mother," it's less a performance than a scarifying brand of therapeutic performance art. And in that regard, as well as many others, it revealed the influence of Yoko Ono, whom Lennon had married in 1969, leaving his first wife, Cynthia, and their son Julian in order to do so.
The minimalist sound of Plastic Ono Band was significant too. Lennon had come to associate the elaborate musical arrangements of much of the Beatles' later work with Paul McCartney and George Martin, and he consciously set out to purge those elements from his own work. Co-producing with Ono and the legendary Phil Spector, he built a sonic environment that could not have been more basic - guitar, bass, drums, the occasional piano -- whatever was essential and absolutely nothing more. Lyrically, he turned away from the psychedelic flights and Joycean wordplay of such songs as "I Am the Walrus" and "Lucy in the Sky With Diamonds" - as well as his books, In His Own Write and A Spaniard in the Works -- and toward a style in which unadorned, elemental speech gathered poetic force through its very directness.
On his next album, Imagine (1971), Lennon felt confident enough to reintroduce some melodic elements reminiscent of the Beatles into his songs. Working again with Ono and Spector, he retains the eloquent plainspokenness of Plastic Ono Band, but allows textural elements such as strings, to create more of a sense of beauty. The album's title track alone ensured its historical importance; it is a call to idealism that has provided solace and inspiration at every moment of social and humanitarian crisis since it was written.
From there Lennon turned to a style that was a sort of journalistic agit-prop. Sometime In New York City (1972) is as outward-looking and blunt as Imagine was, for the most part, soft-focused and otherworldly. As its title suggests, the album reflects Lennon's immersion in the drama and noise of the city to which he had moved with Yoko Ono. And as its cover art suggests, the album is something like a newspaper - a report from the radical frontlines on the political upheavals of the day. His activism would create enormous problems for Lennon, however. The Nixon administration, paranoid about the possibility that a former Beatle might become a potent leader and recruiting tool of the anti-war movement, attempted to have Lennon deported. Years of legal battles ensued before Lennon finally was awarded his green card in 1976.
Lennon's political struggles unfortunately found their match in his personal life. He and Ono split up in the fall of 1973, shortly before the release of his album, Mind Games. He moved to Los Angeles and later described the eighteen months he spent separated from Ono as his "lost weekend," a period of wild indulgence and artistic drift. Like Mind Games, the albums he made during this period, Walls and Bridges (1974) and Rock N Roll (1975), are the expressions of a major artist seeking, with mixed results, to recover his voice. None of them lack charm, and their high points include the lovely title track of Mind Games; Walls and Bridges' "Whatever Gets You Through the Night," a rollicking duet with Elton John that gave Lennon his first number-one single as a solo artist; and the sweet nostalgia of Rock N Roll, a covers album that was Lennon's tribute to the musical pioneers of his youth. But none of those albums rank among his greatest work.
In 1975, Lennon reunited with Ono, and their son Sean was born later that year. For the next five years, Lennon withdrew from public life, and his family became his focus. Then, in 1980, he and Ono returned to the studio to work on Double Fantasy, a hymn to their life together with Sean. The couple was plotting a full-fledged comeback - doing major interviews to support the album's release, recording new songs for a follow-up, planning a tour. Then, shockingly, Lennon was shot to death outside the apartment building where he and Ono lived on the night of December 8, 1980.
Lennon's death broke hearts around the world. In the U.S., it recalled nothing so much as the assassination of John Kennedy in 1963, an event for which, ironically, the arrival of the Beatles a few months later had provided a welcome tonic. In the twenty-five years since, Lennon's influence and symbolic importance have only grown. His music, of course, will live forever. But he has survived primarily as a restless voice of change and independent thought. He is an enemy of the status quo, a bundle of contradictions who insisted on a world in which all the various elements of his personality could find free, untrammeled expression. Innumerable times since his death Lennon has been sorely missed. And just as many times and more he has been present - evoked by all of us who find ourselves and each other in the music he made and the vision that he articulated and tried to make real.
Sunday, March 14, 2010
Jadikan Mencatat Kuantum Sebuah Kebiasaan
Bagaimana menjadikan catatan kuantum bagian dari caramu belajar? Jadikanlah sebuah kebiasaan! Untuk itu, kamu harus berkomitmen berlatih teknik tersebut di setiap kesempatan—seperti yang saya lakukan dengan peta pikiran.
Jadikan latihanmu menyenangkan! Saat mengkaji catatan, buat salinan catatan peta pikiranmu dan tempelkan di dinding kamar. Bicarakan catatan CB dengan teman dan temukan cara baru untuk mengkaji dan menguji dirimu sendiri tentang apa yang sudah kamu pelajari. Cari gerakan tubuh untuk mengingat ide penting dari catatanmu. Saat catatanmu terpampang di dinding, kamu bisa mundur dan melihat semua informasi sekaligus, dekati dan lingkari hal-hal yang penting bagimu, dan bacalah dengan nyaring catatanmu.
Fokuskan diri pada berlatih dan menjadikan catatan kuantum sebuah kebiasaan. Jika ingin belajar lebih banyak tentang cara meningkatkan pembelajaran demi memperkuat informasi dan belajar lebih baik, kamu bisa membaca lebih banyak tentangnya di buku lain seri ini, Quantum Learner. Dan saat teknik catatan kuantum-mu menjadi kebiasaan yang lebih alami, kamu bisa menambahkan keterampilan baru untuk pencatatan lebih baik lagi.
Quantum Note-Taker terbiasa menceburkan diri pada apa yang mereka pelajari dan menghidupkannya dengan teknik mencatat kuantum dan semua indra mereka. Mereka suka menuliskan informasi, melingkari informasi penting, mewarnai ide, menempelkan peta pikiran besar di dinding kamar, memecah informasi menjadi bagian kecil, mengkajinya dengan cara menyenangkan, dan membaca catatan dengan suara nyaring. Tak hanya mempelajari informasi, mereka juga belajar tentang diri sendiri. Itu yang membutnya lebih menyenangkan!.
KESIMPULAN
Catatan CB dan peta pikiran adalah teknik mencatat kuantum yang membuat informasi lebih bermakna dan mudah diingat. Keduanya membuat informasi menjadi visual dan membuat hubungan penting. Dengan memakai kedua teknik ini, kamu menunjukan kepada orang lain bahwa kamu mendengarkan, dan bahwa kamu bisa mengajukan pertanyaan yang tepat saat itu juga. Menjadikan mencatat kuantum sebagai sebuah kebiasaan akan membuatmu siap belajar. Jika pemain bisbol, kamu tak berjalan ke kotak memakai sarung tangan untuk menangkap bola dan membawanya kembali ke bangku cadangan, tapi kamu berjalan ke kotak dengan membawa tongkat pemukul untuk mencetak homerun! Jika sedang masak, kamu tak hanya pergi ke pasar dan membiarkan bahan-bahanmu membusuk di kulkas: tapi kamu mulai mengolah semua bahan begitu tiba di rumah! Secara fisik, kamu siap untuk mewujudkan sesuatu. Begitu juga catatan kuantum. Kamu telah menguasai keterampilannya dan siap, serta tak sabar lagi memakainya untuk belajar.
Buku : Quantum Note-Taker bab 3
Pengarang :Bobbi DePorter
Jadikan latihanmu menyenangkan! Saat mengkaji catatan, buat salinan catatan peta pikiranmu dan tempelkan di dinding kamar. Bicarakan catatan CB dengan teman dan temukan cara baru untuk mengkaji dan menguji dirimu sendiri tentang apa yang sudah kamu pelajari. Cari gerakan tubuh untuk mengingat ide penting dari catatanmu. Saat catatanmu terpampang di dinding, kamu bisa mundur dan melihat semua informasi sekaligus, dekati dan lingkari hal-hal yang penting bagimu, dan bacalah dengan nyaring catatanmu.
Fokuskan diri pada berlatih dan menjadikan catatan kuantum sebuah kebiasaan. Jika ingin belajar lebih banyak tentang cara meningkatkan pembelajaran demi memperkuat informasi dan belajar lebih baik, kamu bisa membaca lebih banyak tentangnya di buku lain seri ini, Quantum Learner. Dan saat teknik catatan kuantum-mu menjadi kebiasaan yang lebih alami, kamu bisa menambahkan keterampilan baru untuk pencatatan lebih baik lagi.
Quantum Note-Taker terbiasa menceburkan diri pada apa yang mereka pelajari dan menghidupkannya dengan teknik mencatat kuantum dan semua indra mereka. Mereka suka menuliskan informasi, melingkari informasi penting, mewarnai ide, menempelkan peta pikiran besar di dinding kamar, memecah informasi menjadi bagian kecil, mengkajinya dengan cara menyenangkan, dan membaca catatan dengan suara nyaring. Tak hanya mempelajari informasi, mereka juga belajar tentang diri sendiri. Itu yang membutnya lebih menyenangkan!.
KESIMPULAN
Catatan CB dan peta pikiran adalah teknik mencatat kuantum yang membuat informasi lebih bermakna dan mudah diingat. Keduanya membuat informasi menjadi visual dan membuat hubungan penting. Dengan memakai kedua teknik ini, kamu menunjukan kepada orang lain bahwa kamu mendengarkan, dan bahwa kamu bisa mengajukan pertanyaan yang tepat saat itu juga. Menjadikan mencatat kuantum sebagai sebuah kebiasaan akan membuatmu siap belajar. Jika pemain bisbol, kamu tak berjalan ke kotak memakai sarung tangan untuk menangkap bola dan membawanya kembali ke bangku cadangan, tapi kamu berjalan ke kotak dengan membawa tongkat pemukul untuk mencetak homerun! Jika sedang masak, kamu tak hanya pergi ke pasar dan membiarkan bahan-bahanmu membusuk di kulkas: tapi kamu mulai mengolah semua bahan begitu tiba di rumah! Secara fisik, kamu siap untuk mewujudkan sesuatu. Begitu juga catatan kuantum. Kamu telah menguasai keterampilannya dan siap, serta tak sabar lagi memakainya untuk belajar.
Buku : Quantum Note-Taker bab 3
Pengarang :Bobbi DePorter
Sunday, March 7, 2010
quantum note taker bab 2
Jadikan Informasimu Lebih Mudah Diingat
Jika Otakmu Sebuah Krayon, Catatan Akan Tampak Seperti Ini.
Bila mencatat menyenangkan, kreatif dan bekerja sesuai cara kerja otakmu, kamu akan mendapatkan hasil lebih baik dalam belajar, dalam mengulang pelajaran untuk ujian, dan saat menulis karya tulis. Dan jika memakai peta pikiran untuk mencatat, kamu bisa melihat gambaran besar catatanmu dengan lebih jelas di pikiranmu.
Peta membuatmu bisa membangun hubungan dan mengaitkan ide-ide karena kamu menuliskannya dengan pas. Itu sebabnya kami mengatakan, seandainya otakmu punya joystick atau krayon besar, catatan yang muncul dan pikiranmu akan tampak seperti peta pikiran.
Peta Pikiran ( Mind Mapping )
Kamu mungkin sudah tahu tentang peta pikiran ( Mind Map ) karena cara ini sudah bertahun-tahun digunakan di seluruh dunia. Tony Buzan membuatnya agar kita bisa mencatat lebih baik dengan menirukan cara kerja otak. Dia melandaskan metode pemetaan ini pada penelitiannya tentang ingatan. Dua cara utama otak mengingat dengan baik adalah lewat asoasi ( menghubungkan dan mengaitkannya dengan sesuatu yang sudah dikenal ) dan menekankan ( membuat informasi itu penting bagimu lewat pengulangan dan penekanan ). Peta pikiran memberimu gambaran besar tentang informasi baru karena kamu menggambarkan koneksi untuk melihat hubungan antar-informasi, apa nilai pentingnya, dan apa yang ingin kamu ingat tentangnya.
Peta Pikiran Bak Sahabat Belajar yang Baik
Kamu bisa memakai peta pikiran yang kamu ciptakan di kelas untuk catatan pelajaran, atau menciptakan Peta Pikiran baru untuk membantumu belajar. Cara mana pun, jawaban yang kamu cari biasanya muncul dalam bentuk warna, gambar, symbol, dan kata. Seolah, Peta Pikiran membawamu kembali ke saat kamu membuatnya dan membantumu mengingat dengan tepat apa yang kamu pikirkan, serta penekanan pemaparnya. Itu cara peta pikiran membuat informasi mudah diingat.
Pengarang : Bobbi DePorter
Buku : Quantum Note Taker Bab 2
Jika Otakmu Sebuah Krayon, Catatan Akan Tampak Seperti Ini.
Bila mencatat menyenangkan, kreatif dan bekerja sesuai cara kerja otakmu, kamu akan mendapatkan hasil lebih baik dalam belajar, dalam mengulang pelajaran untuk ujian, dan saat menulis karya tulis. Dan jika memakai peta pikiran untuk mencatat, kamu bisa melihat gambaran besar catatanmu dengan lebih jelas di pikiranmu.
Peta membuatmu bisa membangun hubungan dan mengaitkan ide-ide karena kamu menuliskannya dengan pas. Itu sebabnya kami mengatakan, seandainya otakmu punya joystick atau krayon besar, catatan yang muncul dan pikiranmu akan tampak seperti peta pikiran.
Peta Pikiran ( Mind Mapping )
Kamu mungkin sudah tahu tentang peta pikiran ( Mind Map ) karena cara ini sudah bertahun-tahun digunakan di seluruh dunia. Tony Buzan membuatnya agar kita bisa mencatat lebih baik dengan menirukan cara kerja otak. Dia melandaskan metode pemetaan ini pada penelitiannya tentang ingatan. Dua cara utama otak mengingat dengan baik adalah lewat asoasi ( menghubungkan dan mengaitkannya dengan sesuatu yang sudah dikenal ) dan menekankan ( membuat informasi itu penting bagimu lewat pengulangan dan penekanan ). Peta pikiran memberimu gambaran besar tentang informasi baru karena kamu menggambarkan koneksi untuk melihat hubungan antar-informasi, apa nilai pentingnya, dan apa yang ingin kamu ingat tentangnya.
Peta Pikiran Bak Sahabat Belajar yang Baik
Kamu bisa memakai peta pikiran yang kamu ciptakan di kelas untuk catatan pelajaran, atau menciptakan Peta Pikiran baru untuk membantumu belajar. Cara mana pun, jawaban yang kamu cari biasanya muncul dalam bentuk warna, gambar, symbol, dan kata. Seolah, Peta Pikiran membawamu kembali ke saat kamu membuatnya dan membantumu mengingat dengan tepat apa yang kamu pikirkan, serta penekanan pemaparnya. Itu cara peta pikiran membuat informasi mudah diingat.
Pengarang : Bobbi DePorter
Buku : Quantum Note Taker Bab 2
Subscribe to:
Posts (Atom)